SELAMAT DATANG DI DUNIA SASTRA INDONESIA

Ingin mengenal lebih dekat dengan sastra Indonesia? Di sini adalah tempat dimana kamu bisa menemukan segala informasi mengenai sastra Indonesia. Tak kenal maka tak sayang, maka kenalilah, lestarikan, dan kembangkan sastra Indonesia mulai sekarang! :)
Tampilkan postingan dengan label Sang Penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sang Penyair. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juni 2010

Sapardi Djoko Damono: Mengajar Lewat Sajak

Sapardi Djoko Damono, lahir 20 Maret 1940 di Solo. Menyelesaikan studi di jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.
Kumpulan sajaknya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1999), dan Ayat-Ayat Api (2000).
Sapardi adalah sosok penyair yang senang bermain dengan kata-kata sampai di dalamnya tersusun dunia yang bermakna. Dia mempunyai keinginan untuk mengajarkan semacam pandangan tertentu melalui sajak-sajaknya seperti berikut ini:

SONET: HEI! JANGAN KAUPATAHKAN

Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu
ia sedang mengembang; bergoyang dahan-dahannya yang tua
yang telah mengenal baik, kau tahu,
segala perubahan cuaca.

Bayangkan: akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar
hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar
dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan
dengan gaib, dari rahim Alam.

Jangan; saksikan saja dengan teliti
bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam
membunuhnya dengan hati-hati sekali
dalam Kasih sayang, dalam rindu-dendam Alam;
lihat: ia pun terkulai pelahan-lahan
dengan indah sekali, tanpa satu keluhan.

Melalui puisi ini, Sapardi ingin menyampaikan ajaran tentang kaitan erat antara kehidupan dengan kematian sebab keduanya berumber pada zat yang sama. Dia juga ingin mengajarkan agar kita tidak bertindak jahat terhadap kehidupan yang berkembang ''Jangan kau patahkan kuntum bunga itu'', tetapi sebaiknya menikmati dan mengagumi saja ''Jangan; saksikan saja dengan teliti'' proses kehidupan dan kematian dengan penuh kasih.

Jumat, 04 Juni 2010

Chairil Anwar ''Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi''

''Aku mau hidup seribu tahun lagi'' tulis Chairil Anwar dalam sajak ''Aku'' pada bulan Maret 1943, ketika dia berumur 20 tahun. Sajak ini mencerminkan semangat hidupnya.

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar yang pada usia 20 tahun meneriakkan keinginan untuk ''hidup seribu tahun lagi'' ini, pada usia 26 tahun menyadari bahwa ''hidup hanya menunda kekalahan...sebelum akhirnya kita menyerah''.

DERAI-DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh,
terasa hari jadi akan malam,
ada beberapa dahan di tingkap merapuh,
dipukul angin yang terpendam.

aku sekarang orangnya bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan,
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.